Beberapa kali sudah saya menengok kerabat saya yang terkena penyakit kanker payudara. Payudara kanannya sudah dioperasi untuk diangkat seluruhnya dan saat ini dia sedang menjalani kemoterapi yang kemudian akan diikuti dengan terapi sinar. Kerabat saya itu sangat terpukul jiwanya dengan penyakit ganas ini, apalagi perjuangan untuk sembuh masih terasa panjang. Rasa sedih dan khawatir yang sangat berat telah menyeret dia ke dalam depresi yang dalam. Ketika saya menengok dia kemarin, dia banyak menangis dan mengeluh tentang rasa takutnya, takut tidak sembuh, takut menyusahkan ibunya, takut akan masa depan yang suram, takut tidak bisa menjalankan aktivitas sehari-harinya, takut Tuhan tidak mendengarkan dan mengabulkan doanya, dst. Di antara bicaranya, terdengar suara bergumam seperti suara orang yang menangis diam-diam .... sedih sekali saya melihat keadaannya.
Pasti seorang wanita akan takut bila mendapatkan penyakit mematikan seperti kanker payudara. Proses penyembuhannya pun cukup panjang melalui pengobatan-pengobatan yang tidak nyaman seperti kemoterapi dan penyinaran. Bagaimana kita bisa menghadapi rasa takut tersebut? Apakah dapat membantu bila kita mengerti mengapa Tuhan memberikan penyakit tersebut kepada kita?
Kerabat saya merasa bahwa Tuhan menghukum dia dengan penyakit kanker karena dia kurang rajin beribadah kepada Tuhan. Sekarang pun dia merasa doanya meminta kesembuhan belum dijawab juga olehNya. Dia merasa sendiri, kesepian dan takut karena Tuhan sepertinya tidak membantuNya. Dia sadar bahwa dia perlu pasrah dan ikhlas dengan diberinya penyakit kanker ini oleh Tuhan dan berusaha untuk bersyukur untuk kemudahan-kemudahan yang dia sudah dapatkan di masa pengobatan ini. Namun rasa takut dan khawatirnya sedemikian besarnya dan sangat berat untuk ditanggung sendirian sementara Tuhan seakan-akan jauh dan tidak menjawab doanya. Untungnya suami dan ibunya setia menemani dia setiap saat dan memberikan dukungan fisik maupun moral.
Mungkinkah rasa takut yang dia rasakan bisa berkurang bila dia merubah persepsinya tentang Tuhan? Saya kemudian mengajak kerabat saya itu untuk mengingat sifat-sifat Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Menjaga, Maha Memberi Kehidupan dan Maha Menyembuhkan. Mungkin selama ini dia melihat Tuhan sebagai sosok yang keras dan Maha Menghukum, yang akan mengirimkan manusia ke neraka bila tidak rajin beribadah. Tentunya Tuhan memiliki juga sifat-sifat yang keras, tapi saya yakin bahwa sifat-sifat Pengasihnya lebih besar. Bagaimana kerabat saya itu bisa merasa dekat dengan Tuhan dan bisa bersandar kepada Tuhan bila sosok yang dibayangkan adalah Tuhan yang keras dan Maha Menghukum? Bisakah dia mengartikan penyakitnya sebagai rasa sayang Tuhan kepada dia, agar dia kembali mendekati Tuhan dan bersandar hanya kepada Tuhan?
Saya mengajak dia untuk memanggil satu per satu rasa takut yang dia rasakan - semua itu sebenarnya hasil dari pikiran yang mendominasi keadaan dia. Ketika terasa perasaan takut akan pengobatan yang berkepanjangan, maka saya minta untuk melepaskan diri dari pikiran tersebut dan menyerahkan pikiran yang menakutkan itu kepada Tuhan yang Maha Pengasih. Muncul lagi perasaan takut akan ketidakpastian tentang masa depan, maka saya minta dia untuk menyerahkan pikiran menakutkan tersebut kepada Tuhan yang Maha Membimbing kita. Perasaan takut tidak akan sembuh kemudian muncul, maka saya minta dia untuk menyerahkannya kepada Tuhan yang Maha Sempurna. Begitu seterusnya selama kira-kira 20 menit sambil kita kemudian bersama-sama berdoa memohon: Aku berlindung kepada Tuhan dari gangguan pikiran-pikiran buruk ini.
Pikiran kita adalah alat yang sangat powerful, tapi kita sering dikendalikan oleh pikiran kita. Bila kita biarkan pikiran-pikiran yang negatif dan menakutkan mengisi dunia kita, tentunya kita akan terseret ke dalam depresi dan ketakutan yang dalam. Kita bisa berlatih memperhatikan pikiran-pikiran yang datang, apakah pikiran ini baik untuk dilayani oleh kita, apakah pikiran ini perlu menjadi action? Ataukah pikiran yang datang ini hanya akan merusak emosi dan jiwa kita? Pikiran-pikiran yang buruk cukup kita amati dengan jarak dan kemudian kita serahkan kepada Tuhan, sambil terus memohon atas lindunganNya.
Bukan kebetulan bahwa siang itu saya ada bersama kerabat saya, melatih kesadaran untuk melepaskan depresi akibat dari pikiran-pikiran yang menakutkan. Kejadian ini sebenarnya juga untuk mengingatkan saya sendiri, bahwa pikiran saya pun keadaanya mungkin sama saja, sering lupa kepada Tuhan karena terbawa pikiran-pikiran yang tidak perlu. Pikiran saya sangat sibuk dengan kegiatan-kegiatan di rumah maupun di kantor, seakan-akan saya bisa mengerjakan itu semua tanpa energi dan petunjuk dari Tuhan. Bersyukurlah saya karena tidak memiliki penyakit ganas untuk mengingatkan saya tentang hal ini. Semoga kerabat saya dapat mengambil hikmah dari penyakit ganas yang dideritanya dan mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga tercapai kondisi jiwa yang aman, pasrah dan ikhlas.
May He make it easy for all of us.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar