Sabtu, 03 Desember 2011

Banyak Maunya?

Sebagai manusia, kita ini banyak maunya.  Contohnya saya sendiri; saya baru saja membayar down payment untuk sebuah rumah di Cinere untuk ditempati nanti di bulan January sesudah pembangunannya selesai.  Banyak sekali kemauan saya untuk melengkapi rumah tersebut agar terasa nyaman dan membetahkan.  Normal kan kemauan saya ini?  Kemauan juga ada tingkatan-tingkatannya, misalnya rasanya kok lebih mantap kalau di rumah tersebut ada bathtub dengan whirpoolnya, sementara untuk orang lain hal tersebut mungkin kurang perlu.  Kalau tidak ada batas budget, tentunya keinginan saya akan terus berkembang.

Darimana datangnya kemauan-kemauan yang tidak ada habisnya ini?  Apakah dari hawa nafsu semata atau memang kemauan ini adalah gift dari Tuhan?  Dan apa tujuannya hadirnya kemauan-kemauan ini?  Apakah kita bisa hidup tanpa kemauan diri sendiri dan mengatakan hanya kemauan Tuhan saja yang ada?  Apakah itu realistis?

Saya teringat akan ceramah Adyashanti tentang the Gift of Wanting.  Dia menyarankan untuk mencari sumber keinginan ini dari dalam diri kita - apalagi kalau keinginan ini sering memasuki pikiran kita.  Mengapa kita menginginkan hal tersebut?  Menurut Adyashanti, hal yang kita cari-cari sebenarnya sudah ada semua secara lengkap dalam diri kita, tapi kita sering lupa karena ketidaksadaran kita.  Sehingga datanglah keinginan-keinginan yang datang dari rasa 'kekurangan" yang sebenarnya semu, agar kita melakukan refleksi diri dan mengingat kembali akan kualitas-kualitas baik yang sudah ada dalam diri kita.  Man is made in the image of God - jadi sebenarnya semua kualitas Tuhan secara fitrah sudah ada dalam diri manusia.  Melalui hidup kita, kita akan berproses melalui pengalaman-pengalaman dengan tujuan untuk mengenal diri kita yang sejati dan merealisasikan semua divine quality ini.  

Dalam kasus saya, mengapa saya benar-benar  menginginkan bathtub dengan whirpool di rumah baru saya?  Mungkin saya ingin merasa pampered dan merasa disayangi dengan berendam di dalamnya.  Jangan-jangan saya masih merasa kurang menyayangi diri saya sendiri atau saya merasa Tuhan kurang menyayangi diri saya.  Padahal secara konsep saya mengerti bahwa Tuhan sangat menyayangi semua manusia karena manusia adalah manifestasiNya, tempat dimana Dia mengekspresikan dan menyaksikan keindahanNya. 

Menyadari kemungkinan adanya rasa kekurangan ini dalam diri saya, saya jadi merenung ... bagaimana supaya saya bisa lebih merasakan KasihNya?  Pastinya dia selalu memberikan Kasih SayangNya, tapi kenapa saya sering tidak menyadarinya?  Kemudian rasanya ada jawaban yang datang dari hati saya:  Cobalah untuk lebih "pay attention" dan bersyukur.   Begitu banyak berkah yang sudah saya dapatkan dan saya masih saja sibuk dengan keinginan-keinginan yang tidak ada habisnya.  Bukannya merasa selalu disayangi Tuhan, saya sering merasa tidak puas dan disibukkan dengan pikiran-pikiran tentang bagaimana mencapai keinginan tersebut. 

Mudah-mudahan hari ini saya lebih sadar dan memperhatikan pemberianNya dan bisa lebih merasakan syukur atas nikmat yang telah Dia berikan.  Kalaupun saya jadi beli bathtub dengan whirpoolnya, semoga itu bukan karena saya kurang merasa disayangi Tuhan, tapi justru karena Tuhan ingin saya lebih merasakan KasihNya.  

Dear God, I want this bathtub with whirpool (and also many other things), but only if it is also Your Will.  Amin ...
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar